Awalan
“Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan budi”. Mungkin pepatah ini sering kita dengar waktu belajar Bahasa Indonesia saat duduk di bangku SD. Mengapa pepatah ini dipamerkan dalam page ini? setidaknya ada dua alasan. Pertama, untuk sekedar mengingatkan kita bahwa kehidupan ini adalah fana’, tiada yang abadi, karena semuanya akan mati, musnah, meninggal, hancur, kullu syai-in haalikun illa wajhah, karena semuanya akan kembali kepada-Nya, inna lillahi wa inna ilai raaji’uun. Dengan mengingat ini maka rasa angkuh, merasa kuat, merasa hebat, ataupun merasa lemah, sendiri, menderita, dsb seakan tidak pantas untuk dilakukan. Karena semuanya tidak akan abadi. Keabadian akan hadir ketika kita mampu menjadi bagian dengan Dzat Yang Maha Kekal, menjadi bagian dari cinta-Nya.
Kedua, nampaknya eman-eman kalau kehidupan ini hanya menjadi milik kita sendiri. Makanya, kemanfaatan dan kesan baik selalu diinginkan bagi orang yang bisa memaknai kehidupan. “Meski kita nanti jarang ketemu, setidaknya kita akan selalu berjumpa dalam KENANGAN dan dalam DO’A”. Begitu pesanku ketika melepas kepergian sobat-sobatku yang pulang kampung setelah wisuda dari kampusku, Unibraw. Betapa sebuah kemanfaatan dan kesan positif selalu menjadi harapan bagi siapapun yang telah berada pada gerbang perpisahan, termasuk kematian. Dalam versi lain, dalam bahasa Muhammad, setidaknya ada 3 hal yang membuat sepenggal hidup seseorang di dunia bisa dikatakan abadi, yakni ; amal sholeh, ilmu manfaat, dan doa anak turun. Meski beda versi, namun nampaknya substansi pada poin paragraf ini bermuara pada prinsip, “bagaimana kita bisa dikenang dan memberi manfaat terhadap kehidupan duniawi yang akan kita tinggalkan”.
Dunia Blogger